Sabtu, 05 Juni 2010

Makalah: Carl Rogger

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG

Tidak sepeti Allport yang datanya semata-mata diperoleh dari studi tentang orang-orang dewasa yang matang dan sehat, Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasien-pasien ini(dia lebih suka menyebut mereka ‘klien-klien’. Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, bukan pada ahli terapi. Jelas, metode ini menganggap bahwa individu yang terganggu memiliki suatu tingkat kemampuan dan kesadaran tertentu dan mengatakan kepada kita banayak tentang pandangan Rogers mengenai kodrat manusia. Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaikinya, maka mereka harus menjadi makhluk yang sadar dan rasional. Rogers percaya bahwa orang-orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka bukan oleh kekuatan-kekuatan tak dasar yang dapat mereka control. Kriterium terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional di mana kepribadian terus menerus bertumbuh. Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti pembiasaan akan kebersihan (toilet training), penyapihan yang lebih cepat, atau pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya. Hal-hal ini tidak menghukum atau mengutuk kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat kita kontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian yang sehat adalah jauh lebih penting daripada masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak adalah penting, tetapi fokus Rogers tetap pada apa yang terjadi dengan kita sekarang, bukan pada apa yang terjadi waktu itu. Dalam karyanya dengan klien-klien, Rogers mempertahankan bahwa kepribadian harus diperiksa dan dipahami melalui segi pandangan pribadi klien, pengalaman-pengalaman sebjektifnya sendiri. Sama seperti dalam kehidupan pribadinya, Rogers percaya akan pengalaman-pengalamannya sendiri, maka demikian juga dalam kehidupan professionalnya, dia percaya akan pengalaman klien-kliennya. Apa yang nyata bagi setiap klien adalah persepsinya yang unik tentang realitas. Rogers percaya bahwa kerena realitas ini tergantung pada pengalaman-pengalaman perseptual setiap orang, maka realitas itu akan berbeda untuk setiap orang. Meskipun demikian, dia mengemukakan suatu tenaga pendorong yang umun dan utama; kecenderungan atau usaha untuk aktualisasi.

2. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalahnya seperti apa dinamika kepribadian dalam teori stimulus respon Hull, Dollard dan Miller.

3. TUJUAN

Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah agar dapat mengerti lebih jauh tentang teori stimulus respon Hull, Dollard dan Miller.

4. MANFAAT

Makalah ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang positif yaitu dapat menambah wawasan yang lebih mendalam tentang teori stimulus respon Hull, Dollard dan Miller.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 CARL ROGERS

Carl Rogers lahir 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.

Teori yang akan dibahas salam bab ini sebenarnya merupakan salah satu teori dari kelompok organismik yang telah dibahas pada bab sebelumnya. Akan tetapi karena teori ini penting dan berpengaruh, maka segi pandang ini penting karena berpengaruh, maka segi pandang yang dikemukakan Rogers dibahas tersendiri.

Sebelumnya telah disebutkan segi pandang Rogers “Self Theory” tetapi istilah itu dirasakan tidak menunjukkan ciri pandang Rogers dengan tepat. Tekanan jatuh pada organisme bukan pada diri. Tentu saja, diri atau konsep diri seperti akan kita lihat, mungkin merupakan gambaran yang menyimpang dari kodrat asli manusia.

Rogers juga menyebutkan diri sebagai orang yang berpandangan humanistik dalam psikologi konteporer. Psikologi humanistik sari satu pihak menentang apa yang disebut sebagai pesimisme suram dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan psikoanalitik tentang dan di lain pihak menentang konsepsi robot tentang manusia yang digambarkan dalam behaviorisme. Psikologi humanistik lebih penuh harapan dengan optimistik tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orang tua, serta pengaruh-pengaruh sosial lainnya. Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini dapat diatasi apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Rogers yakin apabila tanggung jawab ini diterima, maka kita akan segera malihat – kalau saja represi dan perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat dicegah – munculnya seorang pribadi baru, “Yang penuh kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang penjelajah dunia batin lebih dari pada dunia luar, yang memandang rendah sikap serba tunduk pada kebiasaan-kebisaan dan dogma tentang autoritas”.(Rogers, 1974).

Teori Rogers tentang kepribadian, seperti teori Freus, Jung, Adler, Sullivan dan Horney, lahir dari pengalaman-pengalamannya selama bekerja dengan individu-individu dalam hubungan terapeutik. Ia mengakui bahwa dorongan utama untuk pemikiran psikologisnya. Dalam pandangan dunia psikologi, Carl Rogers diindentifikasikan dengan metode psikoterapi yang diciptakan dan dikembangkannya. Tipe terapi ini disebut tidak mengarahkan atau berpusat pada klien. Dalam kata-kata penciptanya sendiri, “client-centred therapy” yang berhasil dilaukan dalam kondisi-kondisi yang optimal.

2.2 STRUKTUR KEPRIBADIAN

Walaupun Rogers nampaknya tidak mementingkan konstruk-konstruk structural, dan lebih senang menaruh perhatian pada perubahan dan perkembangan kepribadian, namun ada 2 konstruk yang sangat penting dalam teorinya dan bahkan dapat dianggap sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua konstruk tersebut adalah organisme dan diri (self).

2.2.1 Organisme

Secara psikologis, organisme adalah lokus atau tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalaman ini merupakan medan fenomenal. Medan fenomenal adalah “frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. “Medan fenomenal tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empatis dan selanjutnya tidak pernah dapat diketahui dengan sempuna” (Rogers, 1959, hlm. 210). Bagaimana individu bertingkah laku tergantung pada medan fenomenal itu (enyataan subjektif) dan bukan pada keadaan-keadaan perangsangnya (kenyataan luar).

Harus dicatat bahwa medan fenomenal tidak identik dengan medan kesadaran. “Kesadaran adalah perlambangan dari sebagian pengalaman kita” (Rogers, 1959). Dengan demikian, medan fenomenal terdiri dari pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi, organisme dapat membedakan kedua jenis pengalaman tersebut dan bereaksi terhadap pengalaman yang tidak dilambangkan. Mengikuti McCleary dan Lazarus (1949), Rogers menyebut peristiwa ini subsepsi (subception).

Pengalaman mungkin tidak tepat dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak serasi. Akan tetapi orang cenderung untuk mengecek pengalaman-pengalaman yang dilambangkan dengan dunia sebagaimana adanya. Uji terhadap kenyataan ini memberikan orang pengetahuan yang dapat diandalkan tentang dunia sehingga dengan demikian orang dapat bertingkah laku secara realistis. Akan tetapi, persepsi-persepsi tertentu tetap tidak diuji atau diuji secara kurang memadai, dan pengalaman-pengalaman yang tidak diuji ini dapat menyebabkan orang bertingkah laku secara tidak realistis, bahkan merugikan orang itu sendiri. Meskipun Rogers tidak menyinggung isu tentang kenyataan yang “sebenarnya”, namun jelas bahwa orang-orang harus memiliki suatu konsepsi tentang standar kenyataan luar atau impersonal, sebab kalau tidak demikian mereka tidak akan dapat menguji gambar kenyataan batin (subjektif) dengan kenyataan “objektif”. Pertanyaan kemudian timbul, yakni bagaimanakah orang-orang dapat membedakan antara gambaran subjektif yang tidak merupakan representasi yang tepat dari kenyataan dan gambaran yang benar-benar merupakan representasi dari kenyataan. Apakah yang memungkinkan orang membedakan antara fakta dan fiksi dalam dunia subjektifnya? Inilah paradoks besar dalam fenomenologi.

Rogers memecahkan paradoks tersebut dengan menyimpang dari rangka pemikiran fenomenologi murni. Apa yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya bukanlah kenyataan bagi orang itu: hal itu hanyalah hipotesis sementara tentang kenyataan yang dapat benar atau salah. Orang menunda keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Menguji berarti mencek ketepatan informasi yang diterima dan yang merupakan dasar dari hipotesisnya dengan sumber-sumber informasi lain. Pengujian tersebut berupa mencek informasi yang kurang pasti dengan pengetahuan yang lebih langsung. Dalam banyak kasus, orang begitu saja menerima pengalamannya sebagai representasi yang tepat tentang kenyataan dan tidak memperlakukannya sebagai hipotesis tentang kenyataan. Akibatnya, orang seringkali menghasilkan banyak konsepsi salah tentang dirinya dan tentang dunia luar. “Pribadi yang utuh ”, baru-baru ini Rogers menulis , “adalah orang yang sepenuhnya terbuka pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang dialami nya dari dunia luar”.

2.2.2 Diri (self)

Sebagian dari medan fenomenal lama kelamaan menjadi terpisah. Ini adalah diri. Diri atau konsep diri merupakan :

Gestalt konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari persepsi-persepsi tentang sifat-sifat dari ‘diri subjek’ atau ‘diri objek’ dan persepsi-persepsi tentang hubungan-hubungan antara ‘diri subjek’ atau ‘diri objek’ dengan orang-orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat pada persepsi-persepsi ini. Gestaltlah yang ada dalam kesadaran meskipun tidak harus disadari. Gestalat tersebut bersifat lentur dan berubah-ubah, suatu proses, tetapi pada setiap saat merupakan suatu entitas spesifik (Rogers, 1959). Disamping ‘diri’ sebagaimana adanya (struktur diri), terdapat suatu diri ideal, yakni apa yang diinginkan orang tentang dirinya.

2.2.3 Organisme dan Aku: Keselarasan dan Ketidakselarasan

Pentingnya konsep-konsep structural, yakni organisme dan ‘diri’, dalam teori Rogers menjadi jelas dalam pembicaraannya tentang kongruensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana dipersepsikan dan pengalaman actual organisme. Apabila pengalaman-pengalaman yang dilambangkan yang membentuk diri benar-benar menserminkan pengalaman-pengalaman organisme, maka orang-orang yang bersangkutan disebut memiliki penyesuaian yang baik, matang, berfungsi sepenuhnya. Orang semacam itu menerima seluruh pengalaman organismik tanpa merasakan ancaman atau kecemasan. Ia mampu berpikir secara realistis. Inkongruensi antara diri dan organisme menyebabkan individu merasa terancam dan cemas. Mereka bertingkah laku serba defensive dan cara berpikir mereka menjadi kaku dan sempit.

Dalam teori Rogers secara implicit terdapat dua menifestasi lain dari kongruensi-inkongruensi. Pertama adalah kongruensi atau inkongruensi antara kenyataan subjektif (medan fenomenal) dan kenyataan luar (dunia sebagaimana adanya). Kedua adalah tingkat kesesuaian antara diri dan diri ideal. Apabila perbedaan antara diri dan diri ideal adalah besar, maka orang merasa tidak puas dan tidak dapat menyesuaikan diri.

2.3 DINAMIKA KEPRIBADIAN

“Organisme mempunyai satu kecenderungan dan kerinduan dasar-yakni mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan organisme”. Kecenderungan untuk mengaktualisasikan ini bersifat selektif, menaruh perhatian hanya pada aspek-aspek lingkungan yang memungkinkan orang bergerak secara konstruktif ke arah pemenuhan dan kebulatan. Di satu pihak terdapat satu kekuatan yang memotivasi, yakni dorongan untuk mengaktualisasikan diri; di lain pihak hanya ada satu tujuan hidup, yakni menjadi pribadi yang teraktualisasikan-dirinya atau pribadi yang utuh.

Organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakkan oleh hereditas. Ketika organisme itu matang, maka ia makin berdiferensiasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Tendensi dasar pertumbuhan ini mengaktualisasikan dan mengekspansikan diri sendiri tampak paling jelas sekali bila individu diamati dalam suatu jangka waktu yang lama. Ada suatu gerak maju pada kehidupan setiap orang; tendensi yang tak henti-hentinya inilah yang merupakan satu-satunya kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan oleh ahli terapi untuk mengadakan perbaikan diri dalam klien.

Rogers menambahkan suatu ciri baru pada konsep pertumbuhan ketika ia mengamati bahwa tendensi gerak maju hanya dapat beroperasi bila pilihan-pilihan dipersepsikan dengan jelas dan dilambangkan dengan baik. Seseorang tidak dapat mengaktualisasikan dirinya kalau ia tidak dapat membedakan antara cara-cara tingkah laku progresif dan regresif. Orang harus mengetahui sebelum mereka dapat memilih, tetapi bila mereka benar-benar mengetahui maka mereka selalu memilih untuk bertumbuh dan bukan untuk mundur.

“Pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu dipersepsikan”. Pernyataan yang jelas-jelas menyinggung tentang adanya banyak “kebutuhan” ini tidak berlawanan dengan pengertian tentang motif tunggal. Meskipun ada banyak kebutuhan, namun semuanya mengabdi kepada tendensi dasar organisme untuk mengembangkan dan mempertahankan diri.

Rogers tetap setia pada pendirian fenomenologisnya dengan selalu menggunakan frase “sebagaimana dialami” dan “sebagaimana dipersepsikan”. Akan tetapi dalam membicarakan proposisi ini, Rogers mengakui bahwa kebutuhan-kebutuhan dapat menimbulkan tingkah laku yang tepat meskipun kebutuhan-kebutuhan itu tidak dialami secara sadar (dilambangkan dengan memadai). Sesungguhnya, Rogers (1977) telah mengurangi peranan kesadaran atau kesadaran diri bagi berfungsinya individu secara sehat. Ia menulis, “dalam pribadi yang berfungsi baik, kesadaran cenderung menjadi sesuatu yang refleksif, bukan suatu lampu sorot yang tajam dari perhatian yang terpusat. Mungkin lebih tepat bila dikatakan bahwa dalam pribadi yang demikian, kesadaran hanyalah merupakan refleksi tentang sesuatu dari aliran organisme pada saat itu. Hanya ketika fungsi terganggu maka timbullah kesadaran diri dengan jelas”.

Pada tahun 1959, Rogers mengemukakan perbedaan antara tendensi mengaktualisasikan pada organisme dan tendensi mengaktualisasikan diri. Menyusul perkembangan struktur diri tendensi umum ke arah aktualisasi ini juga muncul dalam aktualisasi bagian pengalaman organisme yang dilambangkan dalam diri. Apabila diri dan seluruh pengalaman organisme relatif sesuai, maka tendensi aktualisasi relatif tetap padu. Apabila pengalaman dan diri tidak selaras maka tendensi umum untuk mengaktualisasikan organisme mungkin berlangsung dengan tujuan yang berlawanan dengan subsistem motif tersebut, yakni tendensi untuk mengaktualisasikan diri.

Meskipun teori Rogers tentang motivasi bersifat monistik, ia telah member perhatian khusus pada dua kebutuhan, yakni akan kebutuhan yang positif (the need for positive regard) dan kebutuhan akan harga diri. Keduanya adalah kebutuhan yang dipelajari. Kebutuhan yang pertama terjadi pada masa bayi sebagai akibat karena bayi dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan yang kedua terbentuk karena bayi menerima penghargaan positif dari orang lain.

2.4 PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

Meskipun organisme dan diri mempunyai tendensi inheren untuk mengaktualisasikan diri, namun sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan khususnya oleh lingkungan social. Tidak seperti para teoritikus klinis lainnya, sperti Freud, Sullivan, dan Erikson, Rogers tidak memberikan jadwal waktu tahap-tahap penting yang dilalui orang dari masa bayi hingga masa dewasa. Sebaliknya ia memusatkan perhatian pada cara-cara bagaimana penilaian orang-orang terhadap individu, khususnya selama masa kanak-kanak, cenderung memisahkan pengalaman-pengalaman organisme dan pengalaman diri.

Apabila penilaian-penilaian ini semata-mata bernada positif, yang oleh Rogers disebut unconditional positive regard atau penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak akan terjadi pemisahan atau ketidaksesuaian antara organisme dan diri. Rogers berkata: “Apabila individu hanya mengalami penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak akan ada syarat-syarat penghargaan, harga diri akan menjadi tanpa syarat, kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan positif dan harga diri tidak akan berbeda dengan penilaian organismik dan individu akan terus berpenyesuaian baik secara psikologis dan akan berfungsi sepenuhnya”.

Tetapi karena penilaian-penilaian tingkah laku anak oleh orang tuanya dan orang lain kadang-kadang positif dan terkadang negative, maka anak belajar membedakan antara perbuatan-perbuatan dan perasaan-perasaan yang berharga (disetujui) dan yang tidak berharga (tidak disetujui). Pengalaman-pengalaman tidak berharga cenderung dikeluarkan dari konsep diri, meskipun perasaan-perasaan itu secara organismik valid. Keadaan ini menghasilkan konsep diri yang tidak selaras dengan pengalaman organismik. Anak berusaha menjadi apa yang diinginkan oleh orang-orang lain dan tidak berusaha untuk menjadi apa yang sebenarnya diinginkannya. Rogers berkata: “Ia menilai pengalaman secara positif atau secara negative semata-mata karena syarat-syarat penghargaan ini diambilnya dari orang lain, bukan karena pengalaman itu telah mengembangkan atau gagal mengembangkan organismenya”.

2.5 POKOK-POKOK TEORI ROGERS

Konsepsi-konsepsi pokok dalam teori Rogers adalah :

1. Organism, yaitu keseluruhan individu (the total individual)

Organisme memiliki sifat-sifat berikut :

a) Organisme bereaksi secara keseluruhan terhadap medan phenomenal dengan maksud memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

b) Organisme mempunyai satu motif dasar yaitu, mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.

c) Organisme mungkin melambangkan pengalamannya, sehingga hal itu disadari, atau mungkin menolak pelambangan itu, sehingga pengalaman-pengalaman itu tidak disadari, atau mungkin juga organisme itu tak memperdulikan pengalaman-pengalamannya.

2. Medan phenomenal, yaitu keseluruhan pengalaman (the totality of experience)

Medan phenomenal punya sifat disadari atau tidak disadari, tergantung apakah pengalaman yang mendasari medan phenomenal itu dilambangkan atau tidak.

3. Self, yaitu bagian medan phenomenal yang terdiferensiaiskan dan terdiri dari pola-pola pengamatan dan penilaian sadar daripada “I” atau “Me”.

Self mempunyai bermacam-macam sifat :

a) Self berkembang dari interaksi organism dengan lingkungannya.

b) Self mungkin menginteraksikan nilai-nilai orang lain dan mengamatinya dalam cara (bentuk) yang tidak wajar.

c) Self mengejar (menginginkan) consistency (keutuhan/kesatuan, keselarasan).

d) Organisme bertingkah laku dalam cara yang selaras (consistent) dengan self.

e) Pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self diamati sebagai ancaman.

f) Self mungkin berubah sebagai hasil dari pematangan (maturation) dan belajar.

Sifat-sifat dari ketiga konsepsi itu dan saling hubungannya dirumuskan oleh Rogers dalam 19 dalil dalam bukunya client-centered therapy (1951), dan inilah yang merupakan teori Rogers mengenai self. Adapun dalil-dalil Rogers itu adalah seperti berikut :

1. “Tiap individu ada dalam dunia pengalaman yang selalu berubah, dimana dia menjadi pusatnya”. Rogers berpendapat, bahwa mungkin hanya sebagian kecil saja daripada dunia pengalaman itu disadari. Istilah pengalaman disini diartikan sebagai segala sesuatu yang terjadi dalam organisme dalam sesuatu saat, termasuk proses-proses psikologis, kesan-kesan sensoris, dan aktivitas-aktivitas motoris. Kebanyakan dari pengalaman tak sadar itu dapat dijadikan sadar apabila perlu (dalam istilah psikoanalitis : ini dalam alam pra-sadar, bukan sadar). Bagi Rogers, kesadaran itu terdiri dari hal-hal yang dapat dilambangkan (symbolized); kesadaran itu merupakan figure daripada medan phenomenal dengan latar belakang ketidaksadaran.

Rogers yakin, bahwa dunia pengalaman individual ini hanya dapat benar-benar dikenal oleh individu yang bersangkutan sendiri. Hanya saja belum tentu individu yang bersangkutan dapat mengembangkan pengalaman diri ini sebaik-baiknya, walaupun secara potensial telah dimiliki.

Menurut dalil ini, orangnya sendiri adalah sumber yang terbaik dari penyelidikan bagi pribadinya. Karena pernyataannya adalah lambing dari pengalaman batinnya, maka ahli psikologi dapat mempelajari apa yang ada dalam dunia pribadi orang itu dengan mendengarkannya apa yang dikatakan. Untuk ini Client centered therapy adalah jalan yang sebaik-baiknya.

2. “Organisme bereaksi terhadap medan sebagaimana medan itu dialami dan diamatinya. Bagi individu dunia pengamatan ini adalah kenyataan (realitas)”.

Dalil ini menunjukkan, bahwa individu tidak bereaksi terhadap perangsang-perangsang dari luar dan pendorong dari dalam sebagaimana adanya (as such, an sich), tetapi dia bereaksi terhadap hal yang merangsang dan mendorongnya seperti apa yang dialaminya. Apapun yang dipikirnya sebagai benar, baik itu betul-betul benar atau tidak, adalah kenyataan, dan kenyataan subjektif inilah yang menentukan tingkah lakunya.

Konsekuensi perumusan ini ialah bahwa pengetahuan mengenai stimulus saja tidak cukup untuk meramalkan tingkah laku; orang harus mengetahui bagaimana pribadi mengamati stimulus itu. Misalnya orang tak dapat meramalkan bahwa seorang akan memasukkan garam kedalam kopi, kalau orang tak tahu bahwa orang tersebut mengamati garam itu sebagai gula. Dalil ini juga menerangkan mengapa orang bereaksi berbeda-beda terhadap situasi yang sama, dan bereaksi sama terhadap situasi yang berbeda-beda.

Rogers membenarkan, bahwa pribadi cenderung untuk mencek dunia pengalamannya dengan dunia yang sebenarnya. Mentest kenyataan ini memberinya pengetahuan yang dapat disangkutkan pada dunia sehingga dia dapat bertingkah laku secara realistis. Namun, beberapa pengamatan tetap tidak ditest atau ditest secara tidak baik, dan pengalaman yang tidak ditest ini dapat menyebabkan perbuatan yang tak realistis. Menurut Rogers apa yang dialami atau dipikirkan orang sebenarnya bukan kenyataan bagi orang itu; hal itu hanyalah hipotesis tentang kenyataan yang harus ditest, yang dapat benar atau tidak.

3. “Organisme bereaksi terhadap medan phenomenal sebagai keseluruhan yang terorganisasi (organized whole)”.

Istilah organized whole ini konsepsi holistis yang berasal dari psikologi gestalt (goldstein). Pendapat ini menenjukkan bahwa Rogers tidak sepaham dengan cara penyelidikan segmental, misalnya stimulus-respon (psikologi). Organism selalu merupakan suatu system yang terorganisasi, sehingga perubahan pada tiap bagiannya akan menimbulkan perubahan pada bagian lain.

4. “Organisme mempunyai satu kecenderungan dan dorongan dasar, yaitu mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangka diri.”

Dalil ini diasalkan dari Snygg dan Combs dan sesuai dengan gagasan yang serupa yang dikemukakan Angyal dan Maslow, dan kalau dibandingkan dengan pendapat ahli-ahli dari Eropa daratan mirip dengan pendapat Stern.

Dalil ini bersandar pada pangkal duga bahwa organism adalah semata-mata system monistis-dinamis dimana satu pendorong cukup untuk segala macam tingkah laku. Jadi ada satu pendorong dan satu tujuan.

Organisme mengaktualisasikan diri menurut garis yang diwarisi. Makin dewasa organism itu dia makin terdiferensiasikan, makin luas, makin otonom, makin tersosialisasikan. Jadi ada semacam gerakan maju pada kehidupan tiap orang dan kekuatan inilah yang dapat dipakai sebagai modal untuk therapist untuk mengobati pasiennya.

Rogers menambahkan lagi, bahwa kecenderungan bergerak maju itu hanya akan berfungsi kalau pemilihan diamati dengan jelas dan dilambangkan secara baik. Orang tak dapat mengaktualisasi diri kalau dia tak dat membedakan antara tingkah laku yang progresif dan yang regresif. Dia harus tahu sebelum memilih dan kalau dia tahu umumnya memilih yang progresif.

5. “Pada dasarnya tingkah laku itu adalah usaha organism yang berarah tujuan (goal-directed, doelgericht), yaitu untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan sebagaimana dialaminya, dalam medan sebagaimana diamatinya”.

Walaupun ada banyak kebutuhan-kebutuhan namun itu semua mengabdi kepada tujuan organism untuk mengaktualisasikan, mempertahankan dan mengembangkan diri.

6. “Emosi menyertai dan pada umumnya memberikan fasilitas tingkah laku berarah tujuan itu”.

Dalil ini didasarkan kepada pandangan tentang emosi yang dikemukakan oleh Prescott (1938) dan Leeper (1948) yang menyatakan, bahwa emosi itu tidak mengganggu bahkan berguna bagi penyesuaian diri. Emosi yang merangsang seperti misalnya “marah” membantu pribadi dalam tingkah lakunya berusaha, sedang emosi yang menenangkan, seperti “lega” membantu penggunaan apa yang dikejar. Misalnya kemarahan dapat mendorong orang mencari dengan lebih giat, sedang kelegaan karena memiliki membantu orang mencernakan makanan yang telah dimakan. Intensitas emosi ini beragam-ragam sesuai dengan arti situasi bagi pribadi. Apabila bahaya mengancam hidupnya, kekuatannya akan besar, tetapi apabila bahaya itu tak berarti/kecil kekuatan akan kecil.

7. “Jalan yang paling baik untuk memehami tingkah laku ialah dengan melalui internal frame of reference orangnya sendiri”.

Mencoba memahami pribadi dari external frame of referencenya, yaitu dengan memulai kesimpulan yang ditarik dari bahan-bahan tes, observasi, tingkah laku ekspresif kurang memuaskan jika dibandingkan dengan mempergunakan internal frame of referencenya sebagai ternyata dari sikap dan perasaan yang dinyatakannya dalam suasana bebas (permissive, non-theatening) client-centered therapy.

Rogers berpendapat, bahwa self-report tidak memberikan gambaran yang lengkap mengenai kepribadian. karena:

· Orang mungkin sadar akan alasan tingkah lakunya akan tetapi tak dapat menyatakannya dalam kata-kata.

· Orang mungkin tidak menyadarinya.

· Orang mungkin menyadari pengalamannya dan dapat menyatakannya, tetapi dia tidak mau berbuat demikian. Apabila dipaksakan memberi jawaban dia mungkin memperdayakan.

Karena kelemahan-kelemahan self-report itu maka Rogers memilih mencoba memahami kepribadian dan tingkah laku dari internal frame of reference orangnya sebagaimana manifest dalam client-centered theraphy. Ketujuh dalil yang sudah dikemukakan terutama bersifat phenomenologis dan mengenai organisme yang bertingkah laku. (behaving organisme).

Delapan dalil berikutnya mengemukakan konsepsi tentang self sedang yang empat lagi membahas kensepsi self itu lebih jauh.

8. “Suatu bagian dari seluruh medan pengamatan sedikit demi sedikit terdiferensiasikan sebagai self”.

Disini Rogers mengikuti Snygg dan Combs, yaitu berpendapat bahwa self phenomenal terdiferensiasikan dari medan phenomenal. Self ini ialah kesadaran orang akan adanya dan berfungsi: jadi self sebagai objek pengalaman-pengalaman yang menunjukkan “i” atau “me”.

Bagaimana self itu terdiferensiasi dari medan phenomenal? Hal itu dijelaskan oleh dalil yang berikut.

9. “Sebagai hasil saling berpengaruh (interaction) dengan lingkungan, terutama sebagai

hasil dari saling berpengaruh yang bersifat menilai dengan orang-orang lain, dtruktur self itu terbentuk pola pengamatan yang teratur, lentur (fluid), selaras dalam hubungan dengan “i' atau “me”, beserta nilai-nilai yang dihadapi dengan konsepsi ini”.

Diantara diskriminasi-diskriminasi yang dipelajari oleh anak-anak kecil ialah yang memungkinkan dia membedakan dirinya sebagai objek dari lingkungannya. Setelah dia mempelajari diskriminasi ini kemudian dia mengamati, bahwa beberapa benda termasuk padanya dan bebda-benda yanng lainnya tidak (termasuk dalam lingkungan). Selanjutnya dia juga membentuk konsepsi mengenai dirinya sendiri dalam hubungan dengan lingkungan. Pengalaman-pengalaman ini dinilainya, ada yang positif (I like it) ada yang negatif (I dislike it). Struktur self itu selanjutnya merupakan gambaran yang teratur ada dalam pribadi sebagai figure (kesadaran) atau sebagai background(prasadar atau tak sadar) beserta nilai-nilai negatif atau positif.

Nilai-nilai tidak hanya menambah gambaran self (self picture) sebagai hasil pengalaman langsung dengan lingkungan tetapi juga diambil dari orang-orang lain dengan cara introyeksi.

10. “Nilai-nilai terikat kepada pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian struktur self, dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang dialami langsung oleh organisme, dan dalam beberapa hal adalah nilai-nilai yang diintriyeksikan atau diambil dari orang lain, tetapi diamati sebagai dialaminya langsung”.

Anak suka mengerjakan banyak hal, yang mendapatkan hadiah atau hukuman dari orang tua. Anak yangn mendapat hukuman karena mengerjakan sesuatu merasa karena dihadapkan kepada konflik antara keinginan mengerjakan kesenangan dan keinginan menghindarkan kesakitan. Dalam menyelesaikan konflik ini mungkin dia mengubah gambaran mengenai dirinya (self image) dan nilai-nilai dalam dirinya sedemikian rupa, sehingga perasaan dan nilai-nilainya yang sebenarnya dipalsukan. Hal terebut terdapat misalnya dalam cara sebagai berikut”.

Seorang anak laki-laki mempunyai gambaran diri bahwa dia adalah anak yang baik dan dicintai oleh kedua orang tuanya, tetapi juga senang menyaksikan adiknya dan karena perbuatan itu dia mendapat hukuman. Sebagai akibat ari hukuma ini dia harus meninjau kembali gambaran dirinya dan nilai-nilainya dalam salah satu dari cara-cara berikut:

a) “Saya adalah anal yang jahat”

b) “Orang tua saya tidak menyukai saya”.

c) “Saya tak suka mengganggu adik saya”.

Masing- masing sikap diatas itu dapat memalsukan kebenaran. Misalnya saja anak itu mengambil sikap “Saya tidak suka mengganggu adik”, maka ini berarti dia menolakperasaan yang sebenarnya. Penolakan ini tidak berarti bahwa perasaan itu lalu hilang.; perasaan itu akan tetap mempengaruhinya dalam berbagai cara, kendatipun iu mungkin tak disadari. Jadi akan terjadi konflik antara nilai yang diintroyeksikan yang didasari dengan hal yang tak disadari. Apabila nilai yang sebenarnya itu makin banyak diganti oleh nilai yang diambil dari orang lain yang diamatinya sebagai nilainya sendiri, maka self orang itu akan terpecah. Orang yang demikian itu akan merasa tegang, tak tenang. Dia akan merasa seakan-akan tidak tahu apa yang diinginkannya.

11. “Pengalaman yang terjadi dalam kehidupan individu dapat dihadapi demikian:

a) Dilambangkan, diamati dan diatur dalam hubungan dengan self

b) Diabaikan karena tak ada hubungan yang terlihat dengan struktur self

c) Ditolak atau dilambangkan secara palsu oleh karena pengalaman itu tak selaras dengan struktur self

Dalil ini menyatakan bahwa pengamatan itu selektif dan criteria utama untuk seleksi ini ialah apakah pengalaman itu selaras dengan gambaran diri orang pada saat itu. Apabila mempunyai gambaran diri sebagai orang yang lapar, dia akan memilih stimulus-stimulus yang dialaminya penting/berguna bagi pemuasan rasa laparnya”.

Menolak dan mengabaikan pengalaman tidaklah sama. Penolakan berarti pemalsuan kenyataan baik dengan menyatakan itu tidak ada, maupun yang itdak wajar. Seseorang mungkin menolak rasa agresifnya, karena hal itu tidak selaras dengan gambaran dirinya sebagai orang suka damai, baik hati. Dalam hal itu orang mungkin dibiarkan menyatakan diri dalam pelambangan tak wajar, misalnya dengan memproyeksikan kepada orang lain. Rogers menunjukan bahwa orang yang suka mempertahankan dan mengembangkan diri yang menyimpang dari kenyataan (realitas).

12. “Kebanyakan cara-cara bertingkah laku yang diambil orang ialah yang selaras dengan konsepsi self”.

Apabila dalil ini benar, maka cara-cara paling baik untuk mengubah tingkah laku ialah dengan mengubah konsepsi self ini. Dalil ini memang dikerjakan oleh Rogers, karena client-centered therapy itu sebenarnya adalah self-centered therapy.

13. “Dalam beberapa hal tingkah laku itu mungkin didorong oleh pengalaman-pengalaman dan kebutuhan-kebutuhan organis yang tidak dilambangkan. Tingkah laku yang demikian itu mungkin tidak serasi dengan struktur self, akan tetapi dalam hal yang demikian tingkah laku itu tidak diakui, dimiliki (own) oleh individu yang bersangkutan”.

Jadi ada tingkah laku-tingkah laku yang tidak selaras dengan struktur self. Apabila orang bertingkah laku yang tak selaras dengan struktur self itu maka orang menolak mengaku tingkah laku itu: “Saya terpaksa”, “Saya tak bermaksud demikian”.

Kalau dalil 12 dan 13 itu ditinjau bersama-sama maka nyata bahwa Rogers mengakui adanya dua system pengatur tingkah laku, yaitu self dan system organis. Kedua system itu dapat bekerja secara selaras dan dapat bertentangan satu sama lain. Apabila kedua sitem itu bertentangan, maka hasilnya adalah ketegangan dan penyesuaian diri yang tak baik (tension dan maladjusment) sepertitersebut pada dalil 14. Kalau keduanya bekerja sama, hasilnya penyesuaian, seperti pada dalil 15.

14. “Psychological maladjustment terjadi apabila organisme menolak menjadi sadarnya pengalaman sensoris dan visceral yang kuat, yang selanjutnya tidak dilambangkan dan diorganisasikan edalam struktur self. Apabila hal ini terjadi, maka akan terjadi psychological tension”.

15. “Psychological adjustment terjadi apabila konsepsi self itu sedemikian rupa, sehingga segala pengalaman sensoris dan visceral diasimilasikan pada taraf lambing (sadar) kedalam hubungan yang selaras dengan konsepsi self” (Bandingkan dengan Freud: ego dan id yang sadar dan tak sadar).

16. “Tiap pengalaman yang tak selaras dengan organisasi atau struktur self akan diamati sebagai ancaman, dan makin meningkat pengamatan itu akan makin tegas struktur self itu untuk mempertahankan diri”.

Self membentuk pertahanan-pertahanan terhadap pengalaman-pengalaman yang mengancam dengan menolaknya masuk ke kesadaran. Apabila ini terjadi, gambaran diri (self image) itu makin kurang cocok dengan kenyataan organismis, dan ini akan berakibat dibutuhkan lebih banyak pertahanan untuk mempertahankan gambaran palsu yang dibuat self itu. Karena itu self kehilangan kebutuhannya itu dengan pengalaman organisme yang sebenarnya dan meningkatnya pertentangan antara kenyataan dan self itu menimbulkan ketegangan (tension). Akibatnya pribadi menjadi lebih maladjusted.

17. “Dalam kondisi tertentu, pertama-tama tiadanya ancaman terhadap struktur self, pengalaman-pengalaman yang tak selaras dengan struktur self dapat diamati, dan diuji, dalam struktur self direvisi untuk dapat mengasimilasi dan melingkupi pengalaman-pengalaman yang demikian itu”. Di dalam client-centered therapy pribadi merasa dalam situasi yang tanpa bahay/ancaman karena konselor menerima sepenuhnya klien. Sikap konselor yang demikian ini mendorong klien untuk menjelaskan perasaan-perasaan tak sadarnya dan menyadarinya. Lambat laun dia mengenal perasaan tak sadar yang mengancam keamananya. Dalam situasi terapi yang baik perasaan yang mengancam selama ini dapat diasimilasikan kedalam struktur self. Asimilasi ini mungkin menghendaki reorganisasi yang drastic mengenai konsepsi self daripada pasien dengan maksud supaya sejalan dengan kenyataan pengalaman organismis. Keuntungan social yang dicapai dengan terapi cara ini ialah bahwa orang yang mengasimilasikan pengalaman yang dulu ditolaknya itu makinmengerti dan menerima orag lain.

18. “Apabila orang mengalami dan menerima segala pengalaman sensoris dan visceral-nya kedalam sitemnya yang integral dan selaras, maka dia akan lebih memahami orang lain dan menerima orang lain sebagai individu”.

Orang yang defensive cenderung untuk merasa bermusuhan terhadap orang yang tingkah lakunya, dalam penglihatannya, menccerminkan perasaannya sendiri yang ditekannya. Apabila orang merasa terancam oleh impuls-impuls seksual ia akan cenderung untuk mengkritik orang lain yang pada penglihatannya menonjolkan seksualitas. Sebaliknya kalau dia menerima perasaan seksual dan permusuhannya itu dia akan lebih toleran terhadap orang lain yang mengekspresikan perasaan itu. Akibatnya hubungan sosialnya akan lebih baik.

19. Kalau individu lebih banyak lagi mengamati dan menerima kedalam struktur selfnya pengalaman-pengalaman organisnya, dia akan mengetahui bahwa dia mengganti system nilai-nilainya kini yang pada umumnya didasarkan pada intriyeksi yang telah diterimanya dalam bentuk yang tidak wajar dengan proses penilaian yang terus menerus. (Continuing valuing process).

Tekanan disini diletakkan pada system dan proses. System menunjukkan sesuatu yang tetap, statis, sedang proses menunjukan adanya perubahan.

Dalam menyimpulkan dalil-dalilnya Rogers mengatakan: “Teori ini pada dasarnya bersifat fenomenologis dan terutama berhubungan dengan konsepsi untuk menerangkan. Teori itu menggambarkan titik akhir daripada perkembangan kepribadian yaitu adanya kesamaan pokok antara medan pengalaman fenomenal dan struktur self secara konseptual suatu situasi yang apabila tercapai, berisikan kebebasan dari ketegangan yang potensial, yang akan menunjukan adaptasi realitas yang maksimum, yang akan berarti pembentukan system nilai-nilai individual yang mempunyai kesamaan dengan system nilai-nilai orang lain dan menjadi pribadi yang well-adjusted”.

2.6 CLIENT- CENTERED THERAPY

Pertama, terapi berpusat pada klien adalah dibedakan dengan bentuk. Yang menonjol bentuk terapi berpusat pada klien adalah proses respon pemahaman empatik (Temaner, 1977). Tanggapan pemahaman yang empatik proses melibatkan terapis memelihara, dengan konsistensi dan keteguhan sikap terapeutik dalam / pengalaman dan mengekspresikan diri sendiri kepada klien melalui pemahaman empatik tanggapan. Silakan berpaling ke lampiran presentasi ini selama empat segmen sesi terapi yang dapat digunakan sebagai ilustrasi dari pemahaman empatik proses respon.

Pemahaman empatik tanggapan adalah tanggapan yang diamati berkomunikasi empati pemahaman kepada klien. Mereka adalah tanggapan dimaksudkan untuk mengungkapkan dan memeriksa pemahaman empatik terapis pengalaman klien. Dalam suatu proses respon pemahaman empatik antara terapis dan klien berbagai jenis tanggapan pemahaman empatik mungkin terlibat. Contoh jenis oempathic understandingng Common tanggapan adalah sebagai berikut: literal responses; restatements; ringkasan; pernyataan yang menunjuk ke arah pengalaman merasa klien tapi tidak nama atau menggambarkan pengalaman; interpretasi atau dugaan-dugaan mengenai apa yang disimpulkan klien berupaya untuk mengungkapkan; metafora; pertanyaan yang berusaha untuk mengekspresikan pemahaman pengalaman ambiguious klien; gerakan dari terapis wajah, tangan, tubuh; vokal gerak, dll

Apa yang membuat respons jenis ini berfungsi sebagai tanggapan pemahaman empatik adalah bahwa terapis mengungkapkan mereka ke klien dengan maksud untuk meminta klien - 'adalah ini apa yang sedang Anda mengatakan saya? " atau "ini apa maksudmu?", atau "ini apa yang Anda rasakan?". Jenis tanggapan, dan lain-lain, dapat menjadi sarana untuk ekspresi dari pemahaman empatik selama sebagai satu-satunya fungsi dimaksudkan adalah untuk membantu para terapis dalam upayanya untuk memahami klien kerangka acuan internal sebagai klien mencari dirinya sendiri dan menyampaikan kepada terapis.

Tanggapan pemahaman yang empatik proses dapat tampak sangat berbeda dari terapis untuk terapis, dan antara terapi dengan klien yang berbeda oleh terapis yang sama, tergantung pada jenis tanggapan yang digunakan oleh para terapis. Cara tertentu yang empati terapis mengungkapkan pemahaman kepada klien tertentu tidak menjadi masalah, dari sudut pandang tetap dalam kerangka berpusat pada klien, bagaimanapun, asalkan cara menyampaikan kepada klien terapis niat untuk memahami dan selama klien merasa dipahami oleh para terapis.

Terapi berpusat pada klien juga dibedakan dengan penekanan ekstrim tempat praktek di non-directiveness dari terapis. Dalam terapi berpusat pada klien terapis yang sangat berhati-hati untuk menghormati dan melindungi otonomi dan self-arah klien. Klien dipandang sebagai ahli tentang dirinya dan terapis dilihat dirinya sebagai hanya ahli dalam menjaga kondisi sikap dalam hubungan dengan klien, bukan sebagai seorang ahli pada klien.

Hubungan terapeutik secara inheren hubungan yang tidak setara, di mana klien diri sendiri didefinisikan sebagai rentan dan butuh bantuan dan terapis diri sendiri didefinisikan sebagai orang yang dapat membantu. Sebuah elemen dalam orang / klien-perspektif yang berpusat pada keyakinan bahwa hubungan tidak setara secara alami, sampai batas tertentu, menyakitkan atau merugikan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Hubungan yang tidak setara kadang-kadang diperlukan, misalnya dokter dan pasien atau guru dan murid, karena mereka menawarkan keuntungan yang diinginkan. Tapi orang / klien-perspektif yang berpusat mendorong pengunduran diri dari pengejaran kekuasaan dan akan berdebat untuk meminimalkan luka atau kerusakan oleh berbagi otoritas sebanyak mungkin.

Berpusat pada klien terapis terutama memperhatikan potensi berbahaya efek samping dari terapi timpang hubungan dan mencoba untuk berbagi kekuasaan-Nya sebanyak mungkin. Kesadaran dan upaya pengaruh semua tindakannya dalam hubungan dengan klien. Pada dasarnya, klien terapis pandangan yang berpusat pada masalah ini adalah - kewenangan untuk pengalaman klien adalah klien dan cara menggunakan hubungan klien selalu diserahkan kepada klien.

Non-direktif ini sikap memiliki pengaruh yang signifikan dalam perjalanan terapi dilakukan, mempengaruhi apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan. Sebagai contoh, klien-terapis berpusat jawaban pertanyaan klien. Jelas, jika terapis memutuskan pertanyaan apa yang tepat untuk menjawab, atau mengambil pandangan bahwa pertanyaan-pertanyaan tertentu adalah ekspresi dari klien menghindari sesuatu dan menafsirkan ini terapis untuk membantu klien mendapatkan di jalur yang benar, atau jika terapis mengambil pandangan bahwa klien pertanyaan merupakan aspek mencari ketergantungan pada terapis dan terapis menimbulkan penafsiran ini, maka terapis bertindak dengan cara-cara yang mengarahkan proses klien. Dari sudut pandang klien yang berpusat, gagasan bahwa terapis harus mengevaluasi keinginan untuk klien memiliki jawab pertanyaannya adalah paternalistik dan pelaksanaan kewenangan atas klien.

Seorang ahli terapi berpusat pada klien tetap bebas untuk tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh klien. Tapi alasan untuk tidak menjawab akan dijelaskan untuk menjadi seorang pribadi - terapis merasa ia tidak tahu cukup banyak, atau dia merasa tidak nyaman dalam memberitahukan informasi tertentu, dll - bukan sebagai sesuatu yang baik untuk klien. Ada banyak, banyak implikasi terhadap terapi cara dipraktekkan ketika klien-terapis yang berpusat bertindak dari sikap ini sangat dirasakan bahwa klien adalah ahli terbaik sendiri dan bahwa mempertahankan terapis non-directiveness.

Non-direktif karakter terapi berpusat pada klien tidak hanya untuk tujuan melindungi otonomi klien dan untuk meningkatkan diri klien-arah. Terapi berpusat pada klien adalah non-direktif dasarnya terapi karena begitu memberikan kontribusi terapeutik khas kualitas hubungan antara terapis dan klien. Kualitas ini melibatkan pembinaan di klien dari kombinasi perasaan - dari kebebasan, dari kesadaran diri yang positif, dan pemberdayaan Terapis memberikan sikap terapeutik dasar kesesuaian, penerimaan dan empati. Dia menggabungkan ini dalam cara hidup, dengan non-directiveness - tidak adanya petunjuk sikap dan perilaku yang akan menentukan isi dari ekspresi klien, yang akan menentukan bentuk ekspresi klien atau menentukan proses-proses yang terjadi pada klien . Seluruh cara menjadi menghasilkan pengalaman unik sebuah kekuasaan (terapis, secara inheren otoritas) secara konsisten berperilaku dalam cara yang non-authoritative. Pelepasan ini yang biasa membawa bentuk otoritas makna bagi kebanyakan klien. Ia menyampaikan bahwa mereka tidak sedang dievaluasi, tidak diawasi dan tidak dikendalikan. Bahwa mereka tidak diperlakukan dengan cara biasa ini oleh otoritas yang juga membawa arti bahwa mereka diperlakukan dengan hormat, sedang dipercaya, dan bebas, untuk sebagian besar, dalam hubungan. Sebagai akibat hubungan membawa pada kualitas tersebut di atas, kebebasan, dari peningkatan klien kesadaran diri dan rasa kekuatan pribadi.

Terapi berpusat pada klien adalah suatu praktik di mana hipotesis dari prinsip pertumbuhan yang melekat dimasukkan ke dalam tindakan. Ini juga merupakan terapi mana teori terapi sikap sebagai kondisi untuk pertumbuhan diambil sebagai dasar untuk berfungsi dengan klien. Ini juga merupakan praktik terapi yang dibedakan oleh bentuk yang biasanya mengambil (atau bentuk itu kembali pada jika bentuk-bentuk lain ikut bermain) - pemahaman yang empatik proses respon. Ini juga merupakan terapi yang menekankan directiveness dan non-mana prinsip ini dimaksimalkan dalam hubungan dengan klien. Semua bersama-sama, fitur ini berpusat pada klien membedakan terapi dari yang lain dan kemungkinan masih ada orang-berpusat terapi.

2.7 ORANG YANG BERFUNGSI SEPENUHNYA


Hal yang pertama dikemukakan tentang versi Rogers mengenai kepribadian yang sehat, yakni kepridian yang sehat itu bukan merupakan suatu keadaan dari ada, melaikan suatu proses, “suatu arah bukan suatu tujuan”. Aktualisasi diri berlangsung terus; bukan merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Tujuan ini, yakni orientasi kemasa depan, menarik individu kedean yang selanjutnya mendiferensiasikandan mengembangkan segala segi dari diri. Rogers menyebut dari salah satu di antara buku-bukunya On Becoming Person; buku ini merangkum dengan tepat sifat dari proses yang berlangsung terus.

Hal yang kedua dari aktualisasi diri ialh aktualisasi merupakan suatu proses yang sukar dan kadang-kadang menyakitkan. Aktualisasi diri suatu ujian, rentangan dan pecutan terus-menerus terhadap semua kemamuan seseorang. Rogers menulis, ‘aktualisasi diri merupakan keberanian untuk ada’. ‘Hal ini berarti meluncurkan diri sendiri sepenuhnya kedalam arus kehidupan’. Orang itu terbenam dalam dan terbuka pada seluruh ruang lingkup emosi dan pengalaman manusia dan merasakan hal-hal ini jauh lebih dalam daripada seseorang yang kurang sehat. Rogers tidak menggambarkan bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu terus menerus atau juga hampir tiap saat bahagia atau puas, meskipun mereka benar-benar mengalami perasaan-perasaan ini.

Seperti Allport, Rogers juga melihat ebahagiaan sebagai hasil sampingan dari perjuangan aktualisasi diri; kebahagiaan bukan suatu tujuan dalam diri sendiri. Orang-orang yang mengaktualisasikan diri menjalani kehidupan yang kaya, menantang dan berarti tetapi mereka tidak erlu tertawa terus menerus. Hal yang ketiga tentang orang-orang yang mengaktualisasikan diri, yakni mereka benar-benar adalah diri mereka sendiri. Mereka tudak bersembunyi dibelakang topeng-topeng atau kedok-kedok, yang berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan mereka atau menyembunyikan sebagian diri mereka. Mereka tidak mengikuti petunjuk tingkah laku atau memperlihatkan kepribadian yang berbeda untuk situasi-situasi yang berbeda. Mereka bebas dari harapan-harapan dan rintangan-rintangan yang diletakkan masyarakat mereka atau orang tua mereka; mereka telah mengatasi aturan-aturan ini. Rogers tidak percaya bahwa orang-orang yang mengaktualisasikan diri hidup di bawah hukum-hukum yang diletakkan orang lain. Arah yang dipilih, tingakah laku yang diperlihatkan semata-mata ditetentukan oleh mereka sendiri. Diri adalah tuan dari keribadian dan beroperasi terlepas dari norma-norma yang ditentukan orang-orang lain. Akan tetapi orang-orang yang mengaktualisasikan diri tidak agresif, memberontak secara terus terang atau dengan sengaja tidak konfensional dalam mencemohkan aturan-aturan dari orang tua atau masyarakat. Mereka mengetahui bahwa mereka dapat berfungsi sebagai individu dalam sanksi-sanksi dan garis-garis pedoman yang jelas dari mayarakat. Di samping ulasan-ulasan yang umum ini, Rogers memberikan lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu;

1. Keterbukaan pada pengalaman


Seseorang yang tidak terhambat leh syaratsyarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tak satupun yang harus dilawan karena tak satupun yang mengancam. Jadi ketebukaan pada pengalaman adalah lawan dari sifat defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan luar disampaikan ke sistem syaraf organism tanpa distrsi atau rintangan. Rang yang demnikian mengetahui segala sesuatu tentang kodratnya; tidak ada segi keperibadian tertutup. Itu berarti bahwa kepribadian adalah fleksibel, tidak hanya mau menerima engalaman-pengalaman yang diberikan oleh kehidupan, tetapi juga dapat menggunakannya dalam membuka kesempatan-kesempatan persepsi dan uangkapan baru. Sebaliknya, kepribadian yang defensive, yang berperasi menurut syarat-syarat penghargaan adalah statis, bersembunyi di belakan peranan-peranan, tidak dapat menerima atau bahkan mengetahui pengalaman-pengalaman tertentu. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih ‘emosional’ dalam pengertian bahwa dia mengalami emosi yang bersifat positif dan negatif misalnya baik kegembiraan meupun kesusahan dan mengalami emosi-emosi itu ebih kuat daripada orang yang divensif.

2. Kehidupan eksistensial


Orang yang berfungsi sepenuhnya, hidup sepenuhnya dalam setiap moment kehidupan. Setiap pengalaman dirasa segar dan baru, seperti sebelumnya belum pernah ada dalam car ayng persisi sama. Maka dari itu, ada kegembiraan karena setiap pengalaman tersingkap. Karena orang yang sehat terbuka pada semua pengalaman, maka diri atau keperibadian terus menerus dipengsaruhi atau disegarkan oleh sertiap pengalaman. Kan tetapi orang yang divensiv harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmnis dengan diri; dia memiliki suatu struktur diri yang berprasangka dimana semua pengalaman harus cocok dengannya. Rang yang berfungsi sepenuhnya yang tidak memiliki diri yang berprasangka atau tegar tidak harus mengontrol atau memanipulasi penglaman-pengalaman, sehingga dengan bebas dapat berpartisipasi di dalamnya. Jelas ornag yang berfungsi sepenuhnya dapat menyesuaikan diri karena struktur diri terus menerus terbuka pada pengalaman-pengalaman baru. Kepribadian yang demikian itu tidak kaku atau tidak dapat diramalkan. Orang itu berkata demikian, ‘saya akan menjadi aa dalam moment yang berikutnya dan apa yang saya kerjakan, timbul dari moment itu, dan baik saya maupun arang-orang lain tidak dapat meramalakn sebelumnya’. Rogers percaya bahwa kualitas dari kehidupan eksistensial ini merupakan segi yang sangat esensial dari kepribadian yang sehat. Kepribadian terbuka kepada segala sesuatu yang terjadi pada momrnt itu dan dia menemukan dalam setiap pengalaman suatu struktur yang dapat berubah dengan mudah sebagai respon atas pengalaman moment yang berikutnya.

3. Kepercayaan terhadap oganisme orang sendiri


Prinsip ini mungkin paing baik dipahami dengan menunjuk pada pengalaman Rogers sendiri. Dia menulis, ‘apabila suatu aktivitas terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Dengan kata lain ‘saya telah belajar bahwa seluruh perasaan organismik saya terhadap suatu situasi lebih dapat dipercaya terhadap ikiran saya’. Dengan kata lain, bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar merupakan pedoman yang sangat dapat diandalkan dalam memutuskan suatu tindakan, lebih dapat diandalkan dari pada factor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-implus yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingaka laku yang demikian itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali itidak mempehatikan konsekuensi-konsekuensinya. Orang yang sehat terbuka seenuhnya pada pengalaman, maka dia memiliki jalan masuk untuk seluruh informasi yang ada dalam suatu situasi membuat keputusan. Informasi ini berisi kebutuhan-kebituhan orang itu, tuntutan-tuntutan sosial yang relevan, ingatanmingatan terhadap situasi. Karena terbuka pada semua penglaman serta menghidupkan englaman-penglaman itu sepenuhnya, maka indivisu yang sehat dat memberikan seluruh organism mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi. Semua faktr yang reevan diperhitungkan dan dipertimbangkan serta dicapai keputusan yang akan memuaskan semua segi situasi dengan sangat baik. Rogers membandingkan kepribadian yang sehat dengan sebuah computer elektronik dimana semua data yang relevan telah diprogramkan di dalamnya. Komputer itu mempertimbangkan semua segi masalah, semua pilihan dan pengaruh-pengaruhnya dan dengan cepat menentukan tindakan. Seseorang yang be4roperasi semata-mata atas dasar rasional dan intelektual sedikit banyak adalah cacat, karena mengabaikan factor-faktor emosional dalam proses mencapai suatu keputusan. Semua segi organism harus di analisis dalam kaitannya dengan masalah yang ada. Karena data yang digunakan untuk mencapai suatu keputusan adalah tepat (tidak diubah) dan karna seluruh kepribadian mengambil bagia dalam proses membuat keptusan, maka orang-orang yang sehat percaya akan keputusan mereka, seperti mereka percaya akan diri mereka sendiri. Sebaliknya orang yang devensif membuat keputusan-keputusan menurut larangan-larangan yang membimbing tingkah lakunya. Misalnya dia mungkin dibimbing oleh ketakautan terhadap apa yang dipikirkan orang lain, terhadap pelanggaran suatu adat dsopan santun atau karena kelihatan bodoh. Karena orang yang devensif tidak mengalami sepeuhnya, maka ia tidak memiliki data yang lengkap dan tepat tentang semua segi dari suatu situasi. Rogers menyamakan orang ini dengan suatu computer yang diprgramakan untuk menggunakan hanya suatu bagian dari data yang relevan.

4. Perasaan Bebas

.
Rogers percaya bahwa semakin nseseorang sehat secara psikologis, semakin juga ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tana adanya paksaanpaksaan atau rintangan antara alternative pikiran dan tindakan. Tambahan lagi, orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantng pada dirinya., tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan, atau peristiwa-peristiwa masa lampau. Karena merasa bebas dan berkuasa ini maka orang yang sehat melihat sangat bayak pilihan dalam kehidupan dan meras mampu melakukan apa saja yang mungkin ingin dilakukannaya. Orang yang defensive tidak memiliki perasaanperasaan bebas serupa itu. Oreang ini dapat memutuskan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu, namun tidak dapat mewujudkan pilihan bebas itu kedalam tingkah laku yang actual. Tingkah laku ditentukan oleh faktor-faktor yang berada di luar kontrol orang itu, termasuk sikap defensifnya sendiri dan ketidakmampuannya untuk mengalami semua data yang diperlukan untuk membuat keputusan. Orang serupa itu tidak akan memiliki perasaan berkuasa atas kehidupan dan tiak memiliki erasaan akan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbatas. Pilihan-pilihan terbats dan pandangan terhadap masa depan sempit.

5. Kreativitas

Semua orang berfunbgsi sepenuhnya sangat kreatif. Mengingat sifat-sifat lain yang mereka miliki, sukar untuk melihat bagaimana seandainay kalau mereka tidak demikian. Orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada pengalaman yang percaya akan organism mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan serta tindakan mereka ialah orang-orang –sebagaimana dikemukakan Rogers- yang akan mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif dan kehidupan yang kreatif dalam semua bidang kehidupan mereka. Tambahan lagi, mereka, mereka bertingkah laku spontan, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai resapon atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam sekitar mereka. Orang-orang yang kreatif dan spontan tidak terkenal karena konfrmitas atau penyesuaian diri yang positif terhadap tekanan-tekanan sosial dan cultural. Karena mereka kurang bersifat defensive, maka mereka tidak menghiraukan kemungkinan tingkah laku mereka diterima dengan baik oleh orang lain. Akan tetai, mereka dapat dan kerap kali benar-benar menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan dari situasi khusus apabila konformitas yang demikian itu akan membantu memuaskan kebutuhan mereka dan memungkinkan mereka mengembangan diri mereka sampai ke tingkat yang paling penuh. Orang yang defensif, yang kurang merasa bebas, yang tertutup terhadap banya pengalaman, dan yang hidup dalam garis-garis pedoman yang telah dikodratkan adalah tidak kreatif dan spontan. Orang ini lebih cenderung membuat kehidupan menjadi aman dan dapat diramalkan, dan menjaga supaya tegangan-tegangan berada pada suatu taraf yang minimal daripada mencari tantangan-tantangan, dorongan, rangsangan baru. Gaya hidup yang kaku ini tidak memberikan tanaha yang subur untuk memelihara kreatifitas. Rogers percaya bahwa orang-orang yang berfungsi sepenuhnya lebih mamu menyesuaikan diri dan bertahan terhadap perubahan-perubahan yang drastic dalam kondisi-kondisi lingkungan. Mereka memiliki kreativitas dan spontanitas untuk menanggulangi perubahan-perubahan traumatis sekalipun, seperti dalam pertempuran atau bencanabencana alamiah. Jadi, Rogers melihat orang-orang yang berfungsi sepenuhnya merupakan ‘barisan depan yang layak’ dalam proses evolusi manusia.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Rogers bekerja sebagai psikoterapis dan dari profesinya inilah ia mengembangkan teori humanistiknya. Dalam konteks terapi, ia menemukan dan mengembangkan teknik terapi yang dikenal sebagai Client-centered Therapy. Dibandingkan teknik terapi yang ada masa itu, teknik ini adalah pembaharuan karena mengasumsikan posisi yang sejajar antara terapis dan pasien (dalam konteks ini pasien disebut klien). Hubungan terapis-klien diwarnai kehangatan, saling percaya, dan klien diberikan diperlakukan sebagai orang dewasa yang dapat mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas keputusannya. Tugas terapis adalah membantu klien mengenali masalahnya, dirisnya sendiri sehingga akhrinya dapat menemukan solusi bagi dirinya sendiri.

  • Keseluruhan pengalaman eksternal dan internal psikologis individu membentuk organisma. Organisma adalah kenyataan yang dihayati individu, dan disebut sebagai subjective reality, unik dari satu individu ke individu lainnya. Self (diri) berkembang dari organisma. Semakin koheren organisma dan self, semakin sehat pribadi tersebut dan sebaliknya.
  • Sebagaimana ahli humanistic umumnya, Rogers mendasarkan teori dinamika kepribadian pada konsep aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah daya yang mendorong pengembangan diri dan potensi individu, sifatnya bawaan dan sudah menjadi cirri seluruh manusia. Aktualisasi diri yang mendorong manusia sampai kepada pengembangan yang optimal dan menghasilkan ciri unik manusia seperti kreativitas, inovasi, dan lain-lain.

Carl Rogers menggarisbesarkan pandangan Humanisme sebagai berikut:

1. Setiap manusia hidup dalam dua pengalaman yang bersifat pribad dimana dia – sang Aku, Ku, atau diriku (the I, me, or myself) – menjadi pusat.

2. Manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengaktualisasikan diri.

3. Individu bereaksi pada situasi sesuai dengan persepsi tentang dirinya dan dunianya.

4. Adnggapan adanya ancapan terhadap diri akan diikuti oleh pertahanan diri.

5. Kecenderngan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Schultz, D. 1991. Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Oleh: Drs. Yustinus MSc. OFM. Yogyakarta: Kanisius.

Suryabrata.S. (2005). Psikologi Kepribadian. Editor: Sumadi Suryabrata. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.

Hall, C. 2005. Teori-Teori Holistik (Organismik-Fenomenologis). Editor: Dr. A. Supratikanya. Yogyakarta: Kanisius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar