Senin, 28 Desember 2009

FENOMENA BUNUH DIRI

Banyaknya kasus bunuh diri belakangan ini menimbulkan banyak pertanyaan bagi setiap orang. Mengapa banyak orang yang mencoba melakukan bunuh diri? Dan apa alasan mereka untuk bunuh diri? Seakan-akan bunuh diri meupakan jalan keluar terbaik dalam menghadapi suatu masalah sehingga banyak orang yang mengambil jalan pintas tersebut. “A permanenet solution to a temporary problem.”

Menurut kompas.com pada tanggal 4 desember 2009. Dalam sepekan terakhir, tercatat setidaknya ada 5 kasus bunuh diri dan 3 diantaranya dilakukan dengan cara melompat dari lantai atas pusat perbelanjaan. Diantaranya adalah seorang perempuan muda yang menjatuhkan diri dari lantai 5 Mall Grand Indonesia pada hari senin tanggal 3 november. Dan pada hari yang sama seorang pria muda bernama Reno juga loncat dari lantai 5 Mall Senayan City. Satu lagi korban bunuh diri yang diduga loncat dari lantai atas Mall adalah seorang pria berusia 37 tahun yang bernama Richard Kurniawan.

Kasus-kasus bunuh diri seperti diatas bukanlah yang pertama kali terjadi di Indonesia, banyak kasus-kasus serupa yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Kasus bunuh diri banyak dilakukan dengan berbagai macam cara, salah satunya seperti contoh diatas mereka melompat dari gedung yang lebih tinggi. Tapi ada juga cara lain yang banyak digunakan oleh para pelaku bunuh diri seperti gantung diri, meminum racun, memotong urat nadi. Berbagai macam alasan dijadikan dasar untuk seseorang melakukan bunuh diri, dari mulai terlilit hutang, kesulitan ekonomi, ditinggal pasangan, gagal dalam ujian, merasa terhina selama hidupnya, dll. Seseorang yang mempunyai permasalahan dalam hidupnya lalu memutuskan untuk mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri biasanya dikarenakan ketidakmampuannya dalam menghadapi masalah tersebut, dan ia merasa tidak ada seorang pun yang peduli terhadapnya untuk membantu mencari jalan keluarnya. Disinilah seharusnya peran orang-orang terdekat sangat dibutuhkan. Ketika ada seseorang yang bercerita kepada kita tentang masalah yang dihadapinya alangkah baiknya kita membantunya atau memberikan jalan keluar terbaik, karena hal tersebut akan sangat membantunya dan akan membuat dirinya merasa lebih baik.

Ditinjau dari segi psikologis mereka-mereka yang tidak dapat berpikir dengan jernih dalam menghadapi suatu permasalahan atau bahkan sampai putus asa dan memutuskan untuk bunuh diri dinilai tidak memiliki kepribadian dan mental yang sehat. Menurut para ahli (dalam Sinar Harapan.com) menggolongkan orang yang cenderung untuk bunuh diri sebagai orang yang tidak puas dan belum mandiri, yang terus menerus meminta, tidak luwes, dan kurang mampu menyesuaikan diri. Menurut Robert Firestone (dalam Suicide and The Inner Voice), menyatakan bahwa factor lingkungan saat masih anak-anak dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan bunuh diri. Karena, jika seorang anak berada dalam lingkungan yang tidak memberi rasa aman, lingkungan keluarganya menolak, tidak hangat maka ia akan tumbuh menjadi seseorang yang merasa kebingungan dalam menghadapi permasalahan sehari-hari.

Bunuh diri bukanlah suatu jalan penyelesaian masalah yang baik, kebanyakan dari mereka yang bunuh diri tidak menyadari hal ini dikerenakan mereka tidak dapat berpikir dengan baik dalam menghadapi suatu masalah, karena pikiran mereka sudah buntu. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah “Bagaimana agar keluar dari masalah ini?” bukan “Bagaimana mengatasi masalah ini tanpa menimbulkan masalah baru?”. Oleh karena itu agar fenomena bunuh diri tidak terjadi pada orang-orang terdekat kita, mulailah bersikap peduli terhadap sesama, terlebih pada orang-orang terdekat yang kita sayangi. Terima kasih.

TAWURAN

Tawuran adalah suatu proses saling menyerang/berkelahi yang dilakukan secara berkelompok dan terjadi antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya karena adanya suatu permasalahan. Tawuran tidak mengenal usia, mereka yang terlibat dalam tawuran bisa saja remaja, orang dewasa, atau bahkan anak-anak dibawah umur. Tawuran yang paling umum terjadi adalah tawuran dikalangan sekolah atau tawuran antar pelajar, tawuran antar mahasiswa, tawuran antar warga, antar supporter sepakbola, dan tawuran antar warga dan pihak berwajib.

Tawuran antar pelajar sepertinya sudah terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Tawuran antar pelajar tersebut biasanya terjadi karena masalah yang cukup sepele, seperti hanya karena saling mengejek, atau memperebutkan sesuatu hal. Bisa juga terjadi karena ada pemerasan yang dilakukan oleh salah satu sisiwa terhadap siswa lain dari lain sekolah sehingga sisiwa yang diperas tersebut merasa tidak terima ia diperlakukan seperti itu. Ada juga yang disebabkan karena adanya dendam diantara dua sekolah tersebut dan terkadang ada juga orang-orang yang tawuran hanya untuk mencari masalah.

Tawuran yang terjadi dikalangan mahasisiwa pun, disebabakan tidak jauh berbeda dengan yang terjadi dikalangan siswa sekolah. Ada yang terjadi dalam satu kampus dan ada juga yang melibatkan antara dua kampus. Tawuran yang terjadi dalam satu kampus biasanya antara satu fakultas dengan fakultas yang lain dan terjadi dilingkungan kampus. Masalahnya pun biasanya sama saja, dari mulai pemerasan, saling mengejek, atau mungkin penindasan. Tawuran ini biasanya terjadi didalam areal kampus dan mahasiswa biasanya senang melakukan perusakan sarana dan fasilitas di sekitar fakultas.

Dikalangan masyarakat pun sangat umum terjadi tawuran dan biasanya tawuran antar warga ini yang melibatkan anak-anak dibawah umur yang awalnya mereka hanya ikut-ikutan saja. Sebabnya terjadi karena adanya satu permasalahan antara dua orang dan masalah tersebut dibesar-besarkan sehingga pecahlah tawuran antar warga. Tawuran pun bisa terjadi antara warga dan pihak berwajib, biasanya masalah dari tawuran ini adalah karena penggusuran lahan. Para warga merasa mempunyai hak atas tanah yangmereka tempati dan begitu juga dengan pihak yang berwajib, mereka merasa mempunyai hak yang sama seperti warga. Dan satu lagi tawuran yang sering terjadi adalah tawuran antar supporter sepakbola, masalahnya hanya karena tim sepakbola kesayangan mereka kalah lalu mereka melampiaskan kekecewaan mereka dengan cara menyerang supporter tim lain.

Tawuran sebenarnya tidak perlu terjadi jika saja setiap ada permasalahan dapat kita selesaikan secara baik-baik dengan pikiran yang dingin, karena tawuran hanya meninggalkan kerugian, sebab saat tawuran itu berlangsung pasti ada saja korban dan rusaknya fasilitas umum.terima kasih..

PENTINGNYA HUMOR

Pernahkah anda hitung berapa lama anda tetawa dalam satu hari? Dan apa manfaatnya tertawa dalam kehidupan kita? Dan pernahkah anda membayangkan hidup tanpa humor? Sepertinya kita jarang memperhatikan hal-hal seperti ini, karena sebenarnya humor sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari yang kita jalani, seperti dalam keluarga, sekolah, lingkungan bermain, lingkungan masyarakat, bahkan humor penting untuk diri sendiri.

Tertawa itu tidak dilarang dan setiap orang boleh melakukannya dimana saja dan kapan saja asalkan sesuai tempat dan waktunya, sehingga tidak mengganggu orang lain. Dengan tertawa orang-orang yang melihat kita akan tahu bahwa saat itu keadaan hati kita sedang senang atau bahagia. Salah satu cara kita agar kita bisa tertawa adalah melalui humor dan humor bisa kita dapatkan misalnya melalui acara-acara komedi di televise. Acara-acara homor yang sering tayang di televisi sangat membantu kita dalam menenangkan pikiran, sebab setelah kita beraktivitas seharian penuh kita bisa tertawa karena menyaksikan adegan-adegan homor yang ditayangkan sehingga dengan kita tertawa itu akan membuat diri kita menjadi rileks, dan juga dapat mengendurkan otot-otot yang tegang sehingga kita terhindar dari stress.

Humor selain dapat menenangkan diri kita ternyata berguna juga dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam keluarga, dalam hubungan antara suami isteri tidaklah lepas dari perselisihan antara keduanya, dan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut terkadang dibutuhkan humor untuk mencairkan kembali suasana. Selain itu dengan humor kita pun dapat meningkatkan rasa cinta dan sayang kepada pasangan kita sehingga kita akan selalu terlihat sebagai pasangan yang romantic.

Disekolah pun humor masih tetap dibutuhkan, terutama seorang guru. Dalam mengajar alangkah baiknya jika seorang guru dalam menjelaskan pelajaran selalu diselingi oleh humor agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan dapat menumbuhkan minat belajar siswa sehingga siswa tidak merasa takut untuk mengikuti pelajaran tersebut dan dapat lebih rileks dalam mengikuti pelajaran. Tapi semua itu harus dilakukan tanpa mengurangi rasa wibawa seorang guru, sebab jika seorang guru tidak bisa menjaga wibawanya dengan baik dihadapan siswanya maka biasanya siswanya tidak menghormati gurunya lagi.

Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, hendaklah kita selalu berhumor terhadap tetangga-tetangga kita agar mereka merasa nyaman dengan kita dan kita dapat mempererat tali persaudaraan antar keluarga dalam masyarakat.

Humor memang sangat penting dalam kehidupan kita, namun dalam berhumor kita harus bisa melihat situasi dan kondisi dimana dan kapan kita harus berhumor dan kita harus bisa menjaga perasaan orang lain, jangan sampai hanya karena kita bercanda kita membuat perasaan orang lain luka.

BULLYING

Bullying adalah suatu proses penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya. Menurut siaran pers yang diterima detik.com dari aktivis yayasan Semai Jiwa Amni (Sejiwa), bullying terbagi menjadi 3 jenis:

1. Bullying melalui fisik, seperti memukul, menampar, memalak, atau meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya.

2. Bullying melalui verbal, seperti memaki, menggosip, mengejek.

3. Bullying melalui psikologis, seperti mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan, dan mendiskriminasikan.

Pada dasarnya disadari atau tidak tindakan bullying terjadi setiap hari disekeliling kita, seperti halnya disekolah. Dari awal masuk sekolah, yang sering dikenal orientasi siswa atau pengenalan sekolah seperti MOS atau OSPEK yang sebenarnya kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada sisiwa-siswi baru. Namun pada prakteknya ada beberapa kegiatan yang menyimpang, mereka (para senior) memang mengenalkan lingkungan sekolah kepada siswa- siswi yang baru, tapi dibalik semua itu pasti ada saja tindakan-tindakan yang berbau bullying.

Setiap orang pasti pernah menjadi korban atau pelaku bullying. Dalam satu hari saja, pasti terjadi satu atau bahkan lebih tindakan bullying disekolah seperti pemerasan, ancaman, dan yang paling sering terjadi adalah tindakan mengejek. Saya sendiri pernah menjadi saksi dari kekejaman tindakan bullying, ketika saya kelas 1 SMA saya punya seorang teman yang menjadi korban bullying. Setiap ia masuk sekolah, ia selalu mendapat berbagai macam ejekan dari teman- temannya, hal tersebut membuat ia menjadi malas untuk masuk sekolah sehingga ia tidak naik kelas.

Biasanya orang-orang yang menjadi pelaku bullying disebabkan karena ia adalah seorang yang broken home, kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya dirumah karena kesibukan dari orang tuanya sehingga tidak terjalin komunikasi yang baik antara anak dan orang tua lalu ia melampiaskan hal tersebut dengan cara mengintimidasi seseorang untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Mungkin saja masih adanya “Senioritas” dikalangan pelajar sehingga hal ini terjadi secara turun-temurun. Dampaknya terhadap anak tersebut adalah ia menjadi terbiasa untuk melakukan tindakan criminal. Sedangkan dampak bagi korban bulluying adalah ia akan menjadi seseorang yang tidak percaya diri, minder, depresi, dan merasa tidak dihargai.

Kasus bullying tidak hanya terjadi dilingkungan pendidikan, namun bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, bahkan ditempat umum pun kita bisa melihat praktek-praktek bullying seperti pelecehan seksual yang biasanya terjadi pada wanita. Tidaklah mudah untuk mengatasi fenomena bullying karena membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak, mulai dari orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah. Cara termudah yang bisa dilakukan adalah dengan menjalin komunikasi yang baik sehingga seorang anak tidaklah merasa sendiri didalam menjalani kehidupannya. Terima kasih.

Senin, 21 Desember 2009

PENGARUH TAYANGAN TELEVISI

Ketatnya persaingan didalam dunia pertelevisian membuat semakin beragamnya acara-acara yang ditayangkan oleh masing-masing stasiun televisi agar mendapat rating tinggi dari setiap acara yang mereka tayangkan, mulai dari reality show, komedi, sinetron, kuis, talk show, film dokumenter dll.


Akibat dari makin beragamnya acara televisi, membuat para pelaku pertelevisian kurang memperhatikan kualitas dari acara-acara yang mereka hidangkan, seperti halnya sinetron yang banyak digemari oleh kebanyakan orang saat ini. Acara-acara sinetron yang banyak tayang saat ini hanya mengkisahkan kehidupan seseorang yang sudah mapan lalu kemapanan tersebut diperebutkan oleh orang-orang yang iri terhadap orang tersebut. Padahal alangkah baiknya jika suatu film menayangkan suatu proses menuju kemapanan tersebut, sehingga orang-orang yang melihat film tersebut menjadi termotivasi.


Menurut saya tayangan-tayangan sinetron di berbagai stasiun televisi saat ini kurang mendidik karena hanya mempertotntonkan sisi negatif dari kehidupan manusia. Seperti persaingan tidak sehat yang dilakukan antara orang atau sekelompok orang, perilaku remaja yang destruktif (penggunaan narkoba, seks bebas, tawuran antar pelajar/perkelahian), perilaku seorang anak yang tidak menghormati orang yang lebih tua, penindasan, dll. Akibat dari tayangan-tayangan yang negatif menimbulkan dampak yang cukup serius terutama jika tayangan-tayangan tersebut ditonton oleh anak-anak. Karena pada masa anak-anak mereka lebih dapat dengan mudah menangkap dan mencontoh informasi yang mereka dapat, apalagi tayangan-tayangan seperti ini dapat mereka lihat setiap hari. Dan munkin saja banyaknya anak-anak yang berani melawan orang tuanya disebabakan karena ia sering melihat tayangan-tayangan tersebut tanpa didampingi oleh orang tuanya.


Dibalik sisi negatif dari sesuatu pasti ada sisi positifnya. Sisi positif dari tayangan-tayangan televisi adalah bisa menambah pengetahuan kita tentang fenomena-fenomena yang terjadi didunia melalui acara-acara seperti film dokumenter, lalu bisa menjadi penghibur disaat kita lelah melalui acara-acara komedi, dan ada juga acara-acara talk show yang bertujuan memotivasi seseorang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Minggu, 22 November 2009

SOPAN SANTUN

Norma sopan santun adalah norma yang mengatur tata pergaulan sesama manusia di dalam masyarakat. Sopan santun diartikan juga sebagai norma yang mengatur pola perilaku dan sikap lahiriah manusia. Tingkatan sopan santun bisa berbeda-beda dalam setiap lingkungan. Seseorang dikatakan memiliki perilaku yang sopan dan santun jika ia mengikuti aturan atau norma yang berlaku dilingkungan dimana ia berada.


Sudah seharusnya kita berperilaku sopan dan santun kapanpun dan dimanapun kita berada. Seperti saat dirumah kita harus menghormati orang tua, dikampus kita harus sopan kepada dosen dan teman, dijalan kita harus menghargai sesama pengguna jalan yang lain, bahkan diangkutan umum pun kita harus menampilkan perilaku yang sopan dan santun seperti tidak merokok, atau memberikan tempat duduk kepada orang yang lebih membutuhkan, dan ditempat bermain atau dikeramaian sekalipun kita harus tetap berperilaku sopan dan santun walaupun kita tidak mengenal orang-orang yang ada disekitar kita. Karena dari perilaku kita yang sopan dan santun tersebut orang-orang akan menilai kita sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang baik apalagi negeri kita dikenal sebagai negeri yang ramah tamah dan murah senyum.


Tidaklah susah untuk berperilaku sopan dan santun. Apalagi kalau kita sudah dari kecil diajarkan oleh orang tua kita untuk berperilaku sopan santun dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun. Kita bisa memulai untuk berperilaku sopan santun dari ruang lingkup yang kecil seperti di keluarga.

Minggu, 25 Oktober 2009

Allport dan Roger


1. Pendapat Allport dalam membahas manusia


Allport lebih optimistis tentang kodrat manusia daripada Freud. Pandangan-pandangan pribadi dan profesional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud, dan gambaran kodrat manusia yang diutarakan allport adalah positif, penuh harapan dan menyanjung-nyanjung. Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dokontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar. Allport percaya bahwa kekuatan-kekuatan tak sadar itu merupakan pengaruh-pengaruh yang penting pada tingkah laku orang-orang dewas yang neurotis. Akan tetapi individu-individu yang sehat yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga. Kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Orang-orang yang neurotis terikat atau terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, tetapi orang-orang yang sehat babas dari paksaan-paksaan masa lampau.

Freud percaya bahwa perbedaan antara orang yang neurotis dan orang yang sehat terletak dalam tingkat, bukan dalam macamnya; Allport percaya bahwa sama sekali tidak ada kesamaan-kesamaan fungsional antara orang yang neorotis dan orang yang sehat. Dalam pandangan Allport, orang yang neurotis beroperasi dalam genggaman konflik-konflik dan pengalaman-pengalaman kanak-kanak dan kepribadian yang sehat berfungsi pada suatu taraf yang berbeda dan lebih tinggi.


2. Perkembangan proprium sebagai dasar perkembangan kepribadian yang sehat


Proparium/ propriate/ appropriate adalah sesuatu yang dimiliki seseorang adalah unik bagi seseorang. Proprium adalah istilah yang digunakan untuk menunjukun ego. Proprium menggambarkan ego sebagai sesuatu yang dengan segera dapat kita sadari. Proprium tidak dibawa sejak lahir melainkan berkembang karena perkembangan individu. Proprium tersusun menjadi 7 tingkatan :


  1. Diri jasmaniah

Kita tidak dilahirkan dengan suatu perasaan tentang diri. Bayi tidak dapat membedakan antara diri dan dunia sekitarnya. Lama-lama dengan makin bertambah kompleksnya belajar dan pengalaman-pengalaman perseptual, maka berkembang suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada “dalam saya” dan hal-hal lain “diluarnya”. Sekitar usia 15 bulan maka muncullah tingkat pertama perkembangan proparium diri jasmaniah.


  1. Identitas Diri

Pada tingkat kedua perkembangan ini, muncul perasaan identitas diri. Anak mulai sadar akan identitasnya. Allport berpendapat bahwa segi yang sangat penting dalam identitas diri adalah nama orang. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari orang lain.


  1. Harga Diri

Tingkat ketiga dalam perkembangan proprium ialah timbulnya harga diri. Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan sesuatu atas usahanya sendiri. Anak berusia 2 tahun yang bersifat ingin tahu dan agresif dapat menjadi sangat destruktif karena dorongan untuk memanipulasi dan menyelidiki ini berperan banyak. Menurut Allport tingkat perkembangan ini menentukan : apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan, akibatnya timbul perasaan dihina dan marah.


  1. Perluasan Diri (self extension)

Terjadi mulai sekitar usia 4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya dan fakta bahwa beberapa diantaranya adalah miliknya. Anak berbicara tentang “rumahku” atau “sekolahku”.


  1. Gambaran Diri

Hal ini menunjukan bagaimana anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi-interaksi antara orang tua dan anak. Lewat pujian dan hukuman, anak belajar bahwa orang tuanya mengharapkannya supaya menampilkan tingkah laku yang baik dan menjauhi tingkah laku yang buruk.


  1. Diri sebagai Perilaku Rasional

Setelah anak mulai sekolah diri sebagai perilaku rasional mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru dan teman-teman sekolahnya. Anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalah-masalah dengan menggunakan proses-proses yang logis dan rasional.


  1. Perjuangan Diri

Dalam masa adolesensi, perjuangan proprium (propriate striving) – tingkat terakhir dalam perkembangan diri (selfhood) – timbul. Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk mencari identitas diri baru, berbeda dari identitas diri sebelumnya yang terjadi saat usia 2 tahun. Dan pertanyaan “siapakah saya?” adalah sangat penting. Segi yang sangat penting dari pencarian identitas ini adalah definisi suatu tujuan hidup. Pentingnya pencarian ini karena untuk pertama kalinya orang memperhatikan masa depan, tujuan-tujuan dan impian jangka panjang.


3. Ciri kepribadian yang matang menurut Allport


Menurut Allport ada tujuh kriteria tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat :


  1. Perluasan Perasaan Diri

ketika diri berkembanng, maka diri itu meluas jangkauan banyak orang dan benda-benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada individu, kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Dengan kata lain, ketika seseorang menjadi matang ia mengembangkan perhatian-perhatian di luar diri. Dalam pandangan Allport suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi dirinya. Apabila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan karena percaya bahwa pekerjaan itu penting, karena menantang atau karena jika mengerjakan pekerjaan dengan baik akan merasa puas maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik dalam pekerjaan itu. Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktivitas, orang atau ide, maka ia semakin sehat secara psikologis.


  1. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang Lain

Allport membedakan 2 macam kehangatan dalam hubungan dengan orang lain :

  • Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang lain. Apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkambang baik. Ada perbedaan antara hubungan cinta dari orang-orang yang neorotis dengan orang yang sehat. Orang yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya, cinta diberikan dengan syarat dan kewajiban yang tidak bersifat timbal balik. Sedangkan cinta orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.

  • Tipe kehangatan yang kedua adalah suatu pemehaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua Bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan dan kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Orang yang sehat menerima kelemahan-kelemahan manusia dan mengetahui bahwa ia juga memiliki kelemahan yang sama. Tapi orang yang neurotis tidak sabar dan tidak mampu memahami sifat universal dari pengalaman-pengalamn dasar manusia.


  1. Keamanan Emosional

Sifat dari kepribadian yang sehat meliputi beberapa kualitas; kualitas pertama adalah penerimaan diri. Kepribadian yang sehat mampu menerima segala yang ada pada dirinya, seperti kelemahan dan kekurangannya tanpa menyerah pada kekurangan dan kelemahan itu. Kepribadian yang sehat juga mampu menerima emosi-emosi manusia. Kepribadian yang sehat dapat mengontrol emosi mereka sehingga tidak mengganggu aktivitas individu. Tetapi orang yang neurotis menyerah pada emosi yang sedang ia alami saat itu. Kualitas lain dari keamanan emosional adalah apa yang disebut Allport “sabar terhadap kekecewaan”. Orang-orang yang sehat bisa sabar dalam menghadapi kemunduran, malah mereka dapat menemukan cara untuk keluar dari kemunduran tersebut.


  1. Persepsi Realistis

Orang-orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang-orang yang neurotis kerapkali harus merubah realitas supaya sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan kekuatan mereka sendiri.


  1. Keterampilan dan Tugas

Allport menekankan pentingnya suatu pekerjaan dan perlunya suatu keseriusan dalam menjalankannya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan keterampilan. Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki keterampilan-keterampilan menjadi neurotis. Tetapi tidak mungkin menemukan orang yang sehat dan matang tanpa mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaannya. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaanyang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan-keterampilan.


  1. Pemahaman Diri

Usaha untuk mengetahui diri secara objektif merupakan tugas yang sulit, tetapi ada kemungkinan untuk mencapai suatu tingkat pemahaman diri (self-objectification). Kepribadian yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang yang neurotis. Pengenalan diri yang memadai menuntut pemahaman tentang perbedaan antara gambaran tentang diri yang dimiliki dari seseorang dengan dirinya. Orang yang sehat terbuka pada pendapat orang-orang lain dalam merumuskan suatu gambaran diri yang objektif. Allport juga mengemukakan bahwa orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.


  1. Filsafat Hidup yang Mempersatukan

Orang yang sehat selalu melihat ke masa depan, didorong oleh tujuan-tujuan dan rencana-rencana jangka panjang. Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini “arah” (directness), dan lebih terlihat pada kepribadian yang sehat daripada orang yang neurotis. Jadi, bagi Allport tidak mungkin memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan. Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Memiliki nilai-nilai yang kuat, jelas memisahkan orang yang sehat dari orang yang neurotis. Orang yang neurotis hanya memiliki nilai yang terpecah-pecah, dan bersifat sementara. Nilai orang yang neurotis tidak tetap atau tidak cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.

Suara hati juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dan yang neurotis. Suara hati yang tidak matang sama seperti suara hati kanak-kanak, yang patuh dan membudak, penuh dengan pembatasan-pembatasan dan larangan-larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang-orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau nilai-nilai etis.


4. Perkembangan kepribadian self menurut Rogers


Berbeda dengan Allport, yang datanya diperoleh dari studi tentang orang dewasa yang matang dan sehat, Rogers bekerja dengan individu yang terganggu yang mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Untuk merawat pasiennya ia lebih suka menyebutnya “klien”. Ia mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama ada pada kepribadian klien (client-centered therapy). Menurut Rogers individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup, dan menangani masalah-masalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri, karena menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Menurut Rogers manusia yang rasional dan sadar tidak dikontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, seperti toilet training. Rogers lebih melihat pada masa sekarang, ia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi kepribadiannya, namun ia tetap fokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi waktu itu.

Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan kehidupan seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolesensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis.


5. Peranan positive regards dalam kepribadian individu


Saat masa kanak-kanak, anak mulai membedakan atau memisahkan salah satu segi pengalamannya dari semua hal lainnya. Anak mengembangkan kemampuan untuk membedakan antara apa yang menjadi miliknya dan semua benda lain yang dilihat, didengar, diraba, dan diciumnya ketika dia mulai membentuk suatu gambaran tentang siapa dia. Dengan kata lain anak mengembangkan suatu “pengertian diri” (self concept).

Cara-cara khusus bagaimana diri berkembang dan apakah akan menjadi sehat atau tidak tergantung pada cinta yang diterima anak itu pada masa kecil. Pada waktu diri berkembang anak juga belajar membutuhkan cinta. Rogers menyebut kebutuhan ini “penghargaan positif” (positive regards).

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Oleh kerena itu peranan positif regard sangat penting dalam perkembangan diri seseorang, karena suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh mana kebutuhan akan positif regard seseorang dapat terpenuhi dengan baik. Anak akan merasa puas jika ia menerima kasih sayang, cinta, dan persetujuan dari orang lain, tetapi ia akan merasa kecewa jika mendapat celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang.

Menurut Rogers positif regard terbagi menjadi 2, “penghargaan positif bersyarat” (conditional positive regards), adalah kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Misalnya jika seorang ibu menyatakan celaan kepada anaknya ketika anak melakukan kesalahan, maka pada akhirnya anak akan mencela dirinya sendiri ketika ia melakukan kesalahan. Ini berati anak merasa suatu perasaaan harga diri hanya dalam syarat-syarat tertentu. Melaksanakan tingkah laku yang dilarang menyebabkan anak merasa salah dan tidak berharga. Dan dengan demikian sikap defensif menjadi bagian dari tingkah laku anak tersebut. Kedua, “penghargaan positif tanpa syarat” (unconditional positive regards), adalah syarat utama bagi timbulnya kepribadian yang sehat. Hal ini berkembang apabila ibu memberikan cinta dan kasih sayang tanpa memperhatikan bagaimana anak bertingkah laku. Unconditional positive regards tidak menghendaki bahwa semua pengekangan terhadap tingkah laku anak tidak ada tetapi tidak berarti bahwa anak diperbolehkan melakukan apa saja yang diinginkannya tanpa dinasehati.


6. Ciri-ciri orang yang berfungsi sepenuhnya menurut Rogers


Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.


  1. Keterbatasan Pada Pengalaman

Orang yang berfungsi sepenuhnya adalah orang yang menerima semua pengalaman dengan fleksibel sehingga selalu timbul persepsi baru. Dengan demikian ia akan mengalami banyak emosi (emosional) baik yang positif maupun negatif.


  1. Kehidupan Eksistensial

Kualitas dari kehidupan eksistensial dimana orang terbuka terhadap pengalamannya sehingga ia selalu menemukan sesuatu yang baru, dan selalu berubah dan cenderung menyesuaikan diri sebagai respons atas pengalaman selanjutnya.


  1. Kepercayaan Terhadap Organisme Orang Sendiri

Pengalaman akan menjadi hidup ketika seseorang membuka diri terhadap pengalaman itu sendiri. Dengan begitu ia akan bertingkah laku menurut apa yang dirasanya benar (timbul seketika dan intuitif) sehingga ia dapat mempertimbangkan setiap segi dari suatu situasi dengan sangat baik.


  1. Perasaan Bebas

Orang yang sehat secara psikologis dapat membuat suatu pilihan tanpa adanya paksaan-paksaan atau rintangan-rintangan antara alternatif pikiran dan tindakan. Orang yang bebas memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan tergantung pada dirinya sendiri, tidak pada peristiwa di masa lampau sehingga ia dapat meilhat sangat banyak pilihan dalam kehidupannya dan merasa mampu melakukan apa saja yang ingin dilakukannya.


  1. Kreativitas

Keterbukaan diri terhadap pengalaman dan kepercayaan kepada organisme mereka sendiri akan mendorong seseorang untuk memiliki kreativitas dengan ciri-ciri bertingkah laku spontan, tidak defensif, berubah, bertumbuh, dan berkembang sebagai respons atas stimulus-stimulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitarnya.



Referensi :

  • Schultz, D. 1991. Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Oleh: Drs. Yustinus MSc. OFM. Yogyakarta: Kanisius.

  • Suryabrata Sumadi. Psikologi Kepribadian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2003.

  • NN. Carl Rogers : Psikolog Aliran Humanisme. blog.kenz.or.id.


me="GENERATOR" content="OpenOffice.org 3.0 (Win32)">